Jumat, 07 Agustus 2015
MAKANAN TRADISIONAL YANG TERGERUS ZAMAN
04.13
No comments
Indonesia
adalah sebuah negara kepulauan yang memiliki sejuta keindahan panorama alam, dan
panorama budaya yang menjadi daya tarik tersendiri untuk Indonesia maupun untuk
negara lain. Selain itu Indonesia juga memiliki daya tarik lain yang cukup
memberikan Indonesia pada sebuah penghasilan yang besar yaitu memiliki Sumber
Daya Alam, dan Sumber Daya Manusia, selain itu salah satu yang terpenting adalah
budayanya. Budaya Indonesia masih terbilang budaya yang masih bersifat
tradisional, dan unik karena budaya Indonesia dari dulu sampai sekarang masih
menggunakan unsur kedaerahan yang sangat kental sekali. Selain dari segi budaya
yang masih sangat kental, tak lupa Indonesia juga memiliki makanan tradisional
yang membuat masyarakat luar tertarik untuk mencobanya. Makanan tradisional
berasal dari daerah-daerah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai
Merauke, makanan tradisional ini antara lain Singkong, Jagung, Kentang, Ubi,
Tiwul dan lain-lain. Orang zaman dahulu sangat menyukai makanan seperti ini
bahkan mereka setiap harinya harus memakan makanan Singkong, Jagung, dan Ubi
sebagai pengganti lauk-pauk mereka. Namun sekarang apa daya.. makanan
tradisional yang menyehatkan, bersih dari formalin seperti ini tidak disukai oleh
generasi sekarang, malah sudah terbilang hilang begitu saja atau bahkan
generasi muda sekarang tidak tahu, ataupun tidak pernah mendengar makanan
seperti ini. Sungguh ironis makanan tradisional sekarang yang dipandang sebelah
mata oleh generasi muda zaman sekarang. Kebanyakan anak-anak sekarang gemar
dengan makanan yang sudah siap saji atau yang lebih dikenal dengan Fast Food. Padahal makanan Fast Food sangat tidak baik dan tidak
menyehatkan untuk tubuh seseorang. Tetapi kebanyakan orang baik itu usia anak-anak
maupun remaja suka dengan makanan zaman sekarang dibandingkan dengan makanan
zaman dulu. Mungkin karena anak-anak maupun remaja sekarang melihat makanan
tradisional dari segi bentuk, rasa, dan cara pengolahannya yang tidak menarik
ataupun mereka gengsi untuk memakannya. Ya itulah generasi muda sekarang yang
suka pilih-pilih dengan makanan. Kalau mereka tidak suka dengan makanan itu dan
menganggapnya kuno mereka tidak suka sampai kapanpun.
Kita
bisa lihat contoh atau peristiwa yang beberapa hari lalu ngetrend atau heboh di bicarakan, yaitu seorang Presiden RI yang
menikahi anaknya di Solo Jawa Tengah yang bernama Gibran dengan Selvi. Walaupun
Gibran adalah anak Presiden Republik Indonesia atau anak orang penting di
negara ini, mereka menikah dengan sederhana sekali. Contoh kesederhanaanya bisa
dilihat dari makanan ketika prasmanan pernikahan Gibran dengan Selvi ini. Makanan
yang disajikan untuk para tamu bersifat tradisional khas dari Solo, maupun
makanan khas dari luar daerah Solo. Sehingga tamu-tamu penting atau
pejabat-pejabat yang datang mau menikmati makanan tersebut dan menurut mereka
makanan-makanan yang dihidangkan sangat enak walaupun tradisional. Contoh ini
merupakan bukti bahwa masyarakat Indonesia tidak melupakan makanan tradisional
daerah asalanya. Sebenarnya setiap apapun makanan itu enak dan unik. Khusunya
makanan tradisional daerah asal kita yang terbilang masih sangat unik dan enak.
Maka dari itu kita seharusnya bangga dengan apa yang kita punya apalagi makanan
tradisional. Dengan makanan kita bisa mencintai budaya orang lain , dan
terutama mencintai budaya daerahnya sendiri. Setiap budaya Indonesia dari
Sabang-Merauke patuh kita hargai dan apresiasi, karena setiap budaya itu sama. Pada
saat sekarang ini Mahasiswa-mahasiswi banyak yang datang dari luar daerahnya
untuk menuntut ilmu terutama kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta masih dibilang
budaya yang masih tradisional, memiliki sejuta kebudayaan yang indah sekali,
dan yang paling utama ialah banyak sekali makanan tradisional yang perlu kita
lestarikan yaitu Gudeg, Yogyakarta selain dinamakan kota pelajar juga dinamakan
kota Gudeg. Namun sayang, walaupun Yogyakarta terkenal dengan makanan
tradisionalnya mahasiswa-mahasisiswi sekarang tidak menyukai makanan
tradisional misalnya Gudeg, tetapi ada juga mahasiswa yang menyukainya. Maka
dari itu kita sebagai produsen harus pintar-pintar untuk membuat makanan
tradisional yang semenarik, dan secantik mungkin. Agar makanan tradisional tidak tergerus oleh zaman dan
tidak lekang oleh waktu. Kita bisa mencoba atau membuat makanan tradisional
dengan inovasi terbaru. Misalnya singkong dibuat bolu, “bolu singkong”, yang
sekarang sudah ada “bolu tape” dan “bolu ketan hitam” dan lain-lain. Maksud
dari pembuatan makanan tradisional dibuat semenarik dan secantik mungkin agar
generasi muda sekarang menyukai makanan-makanan tradisional dan tidak dengan mudah
melupakan begitu saja. Ingat dengan semboyan yang satu ini “CINTAILAH
PRODUK-PRODUK INDONESIA”.
Veronika
Indri Tri Utami
Prodi :
Pendidikan Sejarah
Senin, 13 Juli 2015
Rindu Bersatu
05.46
No comments
Ada satu yang hilang dari negeri ku
Tak seperti dahulu saling bersatu
Ada yang t’lah berubah dari bangsa ku
Hilangnya kasih sayang itu menyakitkan ku
Lirik tersebut merupakan
cuplikan dari lagu Rindu Bersatu yang dinyanyikan oleh Indonesia United. Lagu
tersebut diciptakan oleh Charlie yang merupakan vokalis ST12 dan lagu tersebut
kemudian dinyanyikan oleh puluhan artis papan atas yang diantaranya adalah Gita
Gutawa, Band ST12, Band Ungu, The Changcuters, Rio Febrian, Kangen Band,
Sherina, Band Nidji, d’Masiv, Band Vierra, Band Kotak, Band Geisha, Alexa, dan
Azura. Hebatnya lagi dalam lagu tersebut diproduksi oleh kolaborasi empat label
besar yakni Warner Music Indonesia, Musica Studio, Sony Music, dan Trinity
Optima Production. Lagu tersebut dilucurkan saat konferensi pers dan launching
album “Rindu Bersatu” di Hotel Nikko, Jakarta, pada Rabu, 21 April 2010 lalu.
Mungkin memang masih banyak orang yang belum mendengar ataupun tahu lagu
tersebut meskipun sudah 5 tahun diluncurkan, tetapi jika kita mengkaji lebih
dalam akan lirik tersebut maknanya akan sangat dalam.
Dalam lagu tersebut
berceritakan akan kerinduan terhadap kedamaian dan persatuan di Indonesia.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia adalah salah satu negara
multikultural terbesar di dunia. Kebenaran dari pernyataan ini dapat dilihat
dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas.
Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya
berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan
hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan
kepercayaan yang beragam seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha,
Konghucu serta berbagai macam aliran kepercayaan yang lain, serta terdiri dari
berbagai macam lapisan masyarakat.
Lagu tersebut bisa
dikatakan sebagai sebuah kritikan terhadap masyarakat bangsa Indonesia ini.
Jika kita bandingkan antara masyarakat pra-kemerdekaan dan masyarakat jaman
sekarang, memang sangat berbanding terbalik mengenai persatuan dan kesatuan
masyarakatnya. Pada masa pra-kemerdekaan untuk memperebutkan kemerdekaan bangsa
Indonesia, para rakyat (para pejuang) tidaklah memandang dalam keberagaman
tersebut. Mereka saling bergotong royong satu sama lain untuk melawan penjajah
agar tidak diperbudak lagi oleh mereka. Tetapi hal tersebut bertentangan dengan
kondisi sekarang yang dalam keberagaman tersebut malah menjadi pemicu munculnya
konflik. Korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, perseteruan politik,
kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan dan hilangnya rasa
kemanusiaan untuk selalu menghormati hak-hak orang lain yang berakibat seperti
tawuran karena perbedaan suku, agama dan golongan, adalah nyata sebagai bagian
dari multikulturalisme.
Sebenarnya
multikulturalisme sendiri sudah terkandung dalam tiap-tiap butir Pancasila.
Hanya saja makna Pancasila kini sudah pudar mulai dalam penghayatan masyarakat.
Bahkan dalam faktanya, ternyata masih banyak para pelajar yang tidak hafal
dengan butir-butir Pancasila. Jika hafal saja tidak, bagaimana bisa mereka
mengimplementasikan makna Pancasila dalam kehidupan mereka ? Apalagi mereka
adalah para penerus bangsa ini. Hal tersebut seharusnya menjadi suatu
keprihatinan terhadap pemahaman dan pelaksanaan Pancasila yang kemudian
berakibat membuat semakin bobroknya bangsa ini.
Pancasila ibaratnya
sebuah buku manual yang sebagai pedoman bagi bangsa Indonesia mencapai
masyarakat yang adil dan makmur. Multikulturalisme di indonesia seharusnya
dapat dijadikan sebagai suatu kekayaan dan kekuatan. Di negara yang memiliki
keberagaman, khususnya Indonesia maka diperlukan suatu unsur perekat yang
universal. Unsur perekat ini adalah kepercayaan akan adanya Tuhan. Sebab jika
kita percaya akan adanya Tuhan, kita juga tahu dasar dari agama kita yaitu
adanya kasih. Inilah yang menjadi dasar utama, jika kita sepakat dan meyakini
adanya Tuhan maka kita akan menghormati keberagaman, karena keberagaman
tersebut terjadi atas keinginan Tuhan.
Ketika kita sudah mampu
menghormati sesama manusia dan tanpa membeda-bedakan mereka, maka kita akan
menjadi manusia yang beradab. Ketika kita sudah menjadi manusia yang beradab
otomatis akan tercipta persatuan. Dari persatuan inilah tercipta suatu kondisi
yang akan melahirkan manusia-manusia yang bijak. Dan manusia yang bijak tentu
saja akan berlaku adil terhadap siapa saja. Dengan begitu kedamaian dan
persatuan pun dapat tercipta di Indonesia ini.
Oleh : Hilaria
Ade Sinta Putriningtyas
Mahasiswa
Universitas Sanata Dharma
Rabu, 03 Juni 2015
PURA KEBO EDAN
07.05
No comments
Nama Bali merupakan salah satu destinasi wisata
yang sangat popular. Bahkan lebih banyak wisatawan internasional yang lebih mengenal Bali daripada
Indonesia. bukan hanya sebagai destinasi wisata bali juga mempunyai kisah
sejarah yang menarik untuk kita lihat.
Terdapat di Desa Pejeng,
Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Pura Kebo Edan adalah salah
satu bukti bahwa ajaran Hindu Tantrayana berkembang di Bali.
Inti ajaran hindu
tantrayana adalah Panca Ma yang berarti, Matsarya (makan ikan)
kedua Mamsa (makan daging), ketiga Mudra (melakukan sikap tangan yang
mengandung kekuatan gaib), keempat, Mada (minum-minuman keras) kelima, Maithuna
(melakukan hubungan seks yang benar)
Ajaran Hindu Tantrayana ini berkembang pesat
di Bali saat raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari melakukan ekspedisi
dalam rangka memperluas kekuasaannya dari Sumatera hingga ke Bali.
Raja Kertanegara adalah
seorang raja yang menganut paham tantrayana dengan mentasbihkan dirinya sebagai
Bhairawa. Kertanegara berhasil menaklukkan Bali pada tahun 1284 M. Di sana
Kertanegara mengangkat seseorang bernama Kebo Parud dengan jabatan patih di
Bali untuk di jadikan wakil kekuasaannya di Bali. Hal ini diketahui dari
prasasti yang dikeluarkan patih Kebo Parud berangka tahun 1218 Saka (1296 M).
Nama Kebo Edan diambil
dari dari dongeng. Berupa arca besar tingginyya 3,6 meter. Arca tersebut perlambang
Siwa Bhairawa Rambut ikal berombak menunjukkan sifat keraksaan. memakai kedok
muka atau tapel, dapat dilihat dari adanya pita pengikat di belakang kepalanya
yang menegaskan bahwa muka yang tampak adalah sebuah kedok atau tapel. yang
berdiri dengan kaki berjauhan dan dibelit ular.
Berdiri di atas tubuh manusia yang matanya lebar terbuka. Ia menari di
atas mayat, dengan wajah ditutupi topeng. Lingga berayun ke kiri berarti
Tantrayana kiri yang merupakan perpaduan tari dan upacara.
Selain arca Siwa Bhairawa
di Pura Kebo Edan terdapat pula arca-arca yang cukup besar lainnya. Arca
tersebut ditempatkan pada bangunan kecil di muka sebelah kanan arca Siwa
Bahirawa. Salah satunya lagi di bangunan sebelah kirinya.
Kedua arca raksasa
masing-masing tangannya membawa mangkuk-mangkuk darah yang di hiasi dengan
hiasan tengkorak. Arca-arca tersebut dalam sikap berdiri, roman mukanya sangat
menakutkan dengan mata melotot. Seluruh kepala dan lehernya dilingkari dengan
rangkaian terngkorak sambil menghisap darah musuhnya dari mangkuk darah yang
dibawanya. Telingannya juga memakai hiasan dari tengkorak. Masing-masing arca
ini mempunyai ukuran yang sama.
Pada masing-masing
bangunan ini juga terdapat arca sepasang kerbau yang sedang dalam keadaan
berjongkok dan menderum. Sikap ini menunjukkan sikap marah atau pun garang
sehingga kemungkinan karena itulah penduduk menyebutnya sebagai Kebo Edan. Arca
kerbau jantan diletakkan pada sisi kanan dari arca Siwa Bahirawa sedangkan arca
kerbau betina ditempatkan pada sisi sebelah kiri.
Selasa, 15 Juli 2014
PENANAMAN BUAH NAGA DALAM UPAYA KONSERVASI LAHAN KERING DI DESA NGORO-ORO, PATHUK, GUNUNG KIDUL
06.37
No comments
Kondisi lahan yang sangat kering dan
kurangnya kepedulian masyarakat untuk membenahi kondisi tersebut perlu
ditingkatkan. Padahal dengan kondisi yang seperti itu, sangat diperlukan
tindakan yang nyata untuk mengubah tanah yang kering tersebut menjadi tanah
yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman buah naga dengan memanfaatkan mikoriza
sebagai penyubur tanah.
Dengan menggunakan mikoriza, lahan
kering dapat dimanfaatkan kembali serta masyarakat dapat menambah pendapatan
dari hasil penanaman buah Naga.
Begitu banyak lahan kering yang
terbengkalai tanpa ada pemanfaatan yang berguna. Pandangan masyarakat tentang
konservasi lahan kering adalah sesuatu yang dianggap remeh dan tidak berguna.
Konservasi lahan kering yang belum dimanfaatkan pada sebagian masyarakat
Indonesia khususnya di desa Ngoro-oro,Gunung Kidul. Sehingga lahan kering yang
sebenarnya masih bisa dimanfaatkan,dengan baik terabaikan. Kurangnya kepekaan
masyarakat dapat disebabkan karena masyarakat belum tahu benar bagaimana cara
untuk konservasi lahan kering.
Hingga sekarang sebagian besar lahan
kering belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sehingga kondisinya
terbengkalai dan tidak adanya maanfaat yang berarti. Buah naga seperti yang
kita ketahui memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan berbagai macam manfaat.
Mikoriza dapat memperbaiki aerasi(ketersedian udara) ini berhubungan dengan
kemampuan mikoriza dalam memperbaiki agregat tanah. Jika buah naga dan mikoriza
tidak dapat dimanfaatkan maka akan menjadi loss karena nilai ekonomis
yang tinggi dan kegunaan untuk memperbaiki agregat tanah pada lahan kering
sehingga dapat menunjak sektor lain.
Pemanfaatan penanaman buah naga
dalam upaya konservasi lahan kering dengan memanfaatkan mikoriza sebagai
penyubur tanah merupakan alternatif terbaik yang dapat ditawarkan kepada
masyarakat sekitar yang memiliki lahan kering.Selama ini mereka membiarkan
lahan kering terbengkalai. Pada umumnya mereka berpendapat bahwa lahan kering
tidak memiliki nilai guna sama sekali. Padahal pemanfaatan bisa meningkatkan
pendapatan dari khalayak itu sendiri berupa pemanfaatan penanaman buah naga
dalam upaya konservasi lahan kering dengan memanfaatkan mikoriza sebagai
penyubur tanah.
Namun, masyarakat Ngoro-oro belum
paham akan manfaat mikoriza tersebut sehingga masyarakat hanya memanfaatkan
tanah untuk menanam tumbuhan berkayu saja. Untuk mengatasi masalah tersebut,
perlu diadakan penyuluhan tentang penanaman dengan menggunakan mikoriza sebagai
media tanam kepada masyarakat desa Ngoro-oro. Cara yang akan dibagi kepada
masyarakat desa Ngoro-oro dengan metode yang sederhana sehingga masyarakat
tidak kesusahan untuk mendapatkan bahan maupun alat dan bahan yang digunakan.
Dengan diadakannya penyuluhan,
peneliti ingin memngembangkan hasil dari pemahaman masyarakat tentang penanaman
dengan menggunakan mikoriza sebagai media tanah menjadi bahan baru untuk bisnis
bagi masyarakat desa Ngoro-oro. Sehingga dapat membantu perkembangan ekonomi
masyarakat desa Ngoro-oro.
Menghasilkan pengetahuan baru bagi masyarakat desa Ngoro-oro
serta meningkatkan nilai guna mikroiza sebagai media tanah unutk penanaman buah
Naga di Desa Ngoro-oro.
•
Mengembangkan lahan kering yang bermanfaat.
•
Memahami mengenai budidaya Buah Naga dan fungsi
Mikoriza.
•
Meningkatkan pendapatan sehari-hari dnegan berbudidaya
Buah Naga
Senin, 19 Mei 2014
Dinasty Han
Dinasty Han adalah salah satu dari Tiga Dinasty terkuat dan berpengaruh
di China dalam catatan sejarah China, karena pengaruhnya yang besar,
Etnis mayoritas di China sekarang ini menyebut diri mereka orang-orang
Han.
Dinasty Han mengalami kemerosotan sejak tahun 100-SM karena
kaisar-kaisar penguasa yang tidak cakap memerintah dan pembusukan di
dalam birokrasi pemerintahan. Beberapa pemberontakan petani terjadi
sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat terhadap kekaisaran. Namun
ketidakmampuan kaisar lebih parah dipergunakan oleh para kasim
(orang laki-laki yang di kebiri Untuk dijadikan pelayan istana) untuk
menggabungkan kekuasaan di tangan mereka. Penghujung Dinasti
Han memang adalah sebuah masa yang didominasi oleh pemerintahan kasim.
![]() |
| PETA KEKUASAAN DINASTY HAN |
Sejak Kaisar Hedi,
kaisar-kaisar selanjutnya naik tahta pada masa kanak-kanak. Ini
menyebabkan tidak ada pemerintahan yang stabil dan kuat karena
pemerintahan dijalankan oleh kasim-kasim dan keluarga kaisar lainnya
yang kemudian melakukan kudeta untuk menyingkirkan kaisar yang tengah
beranjak dewasa guna melanggengkan kekuasaan mereka. Ini menyebabkan
lingkaran setan yang kemudian makin memurukkan situasi Dinasti Han. Pada
penghujung dinasti Han muncul pemberontakan selendang kuning atau yang
lebih dikenal dengan pemberontakan surban kuning,
yang dipimpin oleh Zhang Jiao beserta antek-anteknya mereka menduduki
wilayah Yu Zhou, Xu Zhou, dan Yan Zhou. Untuk menumpas
pemberontakan yang muncul maka pemerintah dinasti Han menobatkan He Jin
sebagai Jendral besar sekaligus perdana menteri. Selama kurang lebih 8
tahun, He jin masih tidak dapat menumpas pemberontakan.
Pada tahun 189-SM, sesaat setelah Kaisar Lingdi mangkat, para menteri
kemudian merencanakan untuk membunuh Jenderal He Jin, paman dari anak
Kaisar Lingdi.
Ini dimaksudkan untuk mencegah He Jin mengangkat Liu Bian (putra Kaisar
Lingdi) sebagai
kaisar pewaris tahta. Rencana ini diketahui oleh He Jin yang kemudian
segera melantik Liu Bian sebagai pewaris tahta dengan gelar Shaodi pada
April 189-SM. Selain itu, He Jin juga memerintahkan Dong Zhuo (seorang
negarawan pada zaman dinasty Han) untuk kembali ke ibu kota Luoyang
untuk menghabisi para menteri serta kasim yang ingin merebut kekuasaan
itu. Sebelum Dong Zhuo sampai, He Jin sudah dibunuh dahulu oleh para
menteri di dalam istana.
Yuan Shao (penguasa daerah utara Tiongkok)
kemudian mengambil inisiatif menyerang istana dan memerintahkan
pembunuhan sebagian menteri dan kasim yang dituduh berkomplot merebut
kekuasaan kekaisaran. Namun, menteri lainnya menyandera Kaisar Shaodi
dan adiknya Liu Xie
ke luar istana. Dong Zhuo mengambil kesempatan ini untuk memusnahkan
kompolotan menteri tadi dan menyelamatkan kaisar. Dengan kaisar di bawah
pengaturannya, Dong Zhuo kemudian memulai kelalimannya.
Dong Zhuo mulai menyiapkan strateginya untuk mengontrol kekuasaan
kekaisaran di Cina dengan membatasi wewenang kekuasaan Kaisar Shaodi. Ia
lalu menghasut Lu Bu (Panglima jenderal Dinasty Han) untuk membunuh
ayah angkatnya, Ding Yuan
dan merebut seluruh kekuatan militernya untuk memperkuat diri sendiri.
Yuan Shao juga diusir olehnya dari Luoyang. Ia membatasi wewenang para
menteri dan memusatkan kekuasaan di tangannya, setelah itu, Kaisar
Shaodi diturunkan dari tahta untuk kemudian digantikan oleh adiknya Liu
Xie yang menjadi kaisar dengan gelar Xiandi pada September 189-SM.
Sejarahwan beranggapan bahwa momentum ini adalah awal Zaman Tiga Negara.
![]() |
| PETA PROVINCI |
Yuan Shao kemudian menghimbau para jenderal penguasa daerah untuk
melawan kelaliman Dong Zhuo. Usahanya membawa hasil 11 batalyon militer
beraliansi untuk melakukan agresi ke Luoyang guna menumbangkan rezim
Dong Zhuo. Yuan Shao memimpin aliansi yang kemudian dinamakan sebagai Tentara Pintu Timur.
Dong Zhuo merasa takut dan membunuh bekas kaisar Shaodi,
membumi-hanguskan dan merampok penduduk Luoyang, menyandera Kaisar
Xiandi dan memindahkan ibu kota ke Chang'an sekarang kota Xi'an.
Dalam pelariannya, Dong Zhuo diserang oleh Cao Cao (pejabat Qingzhou wilayah utara Tiongkok) dan Sun Jian
yang tergabung dalam Tentara Pintu Timur, namun sayang karena ada
kecemburuan di dalam aliansi menyebabkan tidak ada bantuan dari jenderal
lainnya yang tidak ingin melihat keberhasilan mereka berdua. Aliansi
ini kemudian bubar dan Dong Zhuo meneruskan kelalimannya di Chang'an.
Akhirnya, pada tahun 192-SM, menteri istana bernama Wang Yun bersama Lu
Bu menghabisi nyawa Dong Zhuo di Chang'an. Ini mengakibatkan bawahan
Dong Zhuo, Li Jue menyerang istana dan membunuh Wang Yun serta mengusir
Lu Bu. Dan Li Jue melanjutkan kelaliman pemerintahan Dong Zhuo.
Setelah Dong Zhuo berhasil dijatuhkan, Dinasti Han makin melemah karena
kehilangan kewibawaan kekaisaran. Melemahnya kekuasaan istana
menyebabkan para gubernur dan penguasa daerah memperkuat diri sendiri
dan menjadi raja kecil di wilayah mereka. Ini menyebabkan munculnya
persaingan antar raja-raja perang satu wilayah dengan wilayah lainnya.
peristiwa inilah yang akhirnya dikenal dengan nama zaman tiga negara.
yang menyebabkan runtuhnya Dinasty Han yang terakhir.
















